{"id":1085,"date":"2009-02-24T10:03:40","date_gmt":"2009-02-24T16:03:40","guid":{"rendered":"http:\/\/envirodiary.com\/id\/?p=2"},"modified":"2009-02-24T10:03:40","modified_gmt":"2009-02-24T16:03:40","slug":"pengelolaan-sampah-rumah-tangga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/envirodiary.com\/id\/pengelolaan-sampah-rumah-tangga\/","title":{"rendered":"Pengelolaan Sampah Rumah Tangga"},"content":{"rendered":"<p>Baru-baru ini saya mendapatkan tawaran untuk mengerjakan pengelolaan sampah rumah tangga di kawasan pesisir, dan identifikasi jenis usaha yang dapat dilakukan para penduduk sekitarnya. Dalam posting ini, akan saya sampaikan beberapa informasi tentang pengelolaan sampah rumah tangga. <!--more--><\/p>\n<p>Beberapa informasi yang penting untuk diketahui menurut urutannya adalah:<\/p>\n<p><strong>Ciri-ciri\/karakteristik penduduk pesisir<\/strong><\/p>\n<p>Penduduk pesisir adalah kelompok orang yang tinggal di daerah pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Secara umum masyarakat di kampung nelayan mempunyai jenis kegiatan yang sangat berbeda dengan masyarakat kampung yang tidak terletak di bibir pantai. Aktivitas utama yang dilakukan adalah <strong>mengolah hasil laut<\/strong> yang mereka dapatkan sebagai mata pencaharian utama. Permasalahan yang sering timbul pada daerah kampung nelayan ini adalah permasalahan pencemaran lingkungan yang akan menurunkan produktivitas masyarakat pesisir. Khusus daerah Lekok, yang menjadi topik pengelolaan sampah ini, terdapat sebagian desa di sebelah timur yang memang mata pencahariannya bukanlah nelayan, akan tetapi petani. Untuk itu, perlu pemisahan karakteristik sampahnya.<\/p>\n<p><strong>Jenis dan tipe sampah penduduk pesisir<\/strong><\/p>\n<p>Menurut Dahuri (2001) ada 7 sumber pencemar di daerah pesisir yaitu dari limbah dari aktivitas industri, limbah cair dan padat dari  aktivitas pemukiman, limbah cair dan limbah padat dari perkotaan, pertambangan, pelayaran (shipping), pertanian dan perikanan budidaya. Terkait dengan pengelolaan sampah, cara hidup dan kebudayaan masyarkat pesisir yang berbeda akan sangat mempengaruhi  karakteristik sampah yang dihasilkan.<\/p>\n<p><strong>Informasi tentang pengelolaan sampah rumah tangga secara umum<\/strong><\/p>\n<p>Aktivitas di wilayah pesisir secara umum dibedakan atas aktifitas domestik, kegiatan nelayan dan usaha rumah tangga di bidang budidaya kelautan. Seluruh aktivitas ini akan menghasilkan sampah setiap harinya. Pengelolaan sampah di daerah pesisir ini belum tertangani dengan baik. Kebiasaan masyarakat adalah membuang sampah hasil aktivitasnya langsung ke laut atau badan air disekitar lokasi tersebut. Pemrosesan akhir yang biasa dilakukan warga bila tidak langsung membuang, adalah menimbun sampah dilokasi tertentu karena luas lahan tersedia cukup dan kegiatan lain adalah dengan membakar sampah. Kondisi ini memberi dampak negatif pada pemukiman kampung nelayan antara lain, kondisi kampung menjadi kumuh, berbau dan menjadi tempat berkembangnya sarang penyakit. <\/p>\n<p><strong>Identifikasi pengelolaan sampah rumah tangga yang cocok untuk daerah pesisir<\/strong><\/p>\n<p>Berdasarkan sudut pandang ekonomi, pengelolaan sampah yang tidak baik ini dapat menurunkan produktifitas dari kampung nelayan. Ada beberapa hal yang menyebabkan produktivitas ini menurun seperti, laut yang tercemar sehingga menurunkan hasil tangkapan, menurunkan minat dari konsumen untuk membeli produk langsung ke daerah nelayan dan berkurangnya kesempatan untuk pengembangan usaha. Pengelolaan sampah yang terpadu dan sesuai dengan karakteristik masyarakat sangat penting untuk diperhatikan dan diimplementasikan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Baru-baru ini saya mendapatkan tawaran untuk mengerjakan pengelolaan sampah rumah tangga di kawasan pesisir, dan identifikasi jenis usaha yang dapat dilakukan para penduduk sekitarnya. Dalam posting ini, akan saya sampaikan beberapa informasi tentang pengelolaan sampah rumah tangga.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1085","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-pengelolaan-sampah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/envirodiary.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1085","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/envirodiary.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/envirodiary.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/envirodiary.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/envirodiary.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1085"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/envirodiary.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1085\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/envirodiary.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1085"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/envirodiary.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1085"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/envirodiary.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1085"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}