Model spatiotemporal menggabungkan konsep spasial dan temporal. Karena ada unsur spasial, maka perlu adanya observasi level spasial atau lokasi yang memadai. Dalam kasus Kota Surabaya, stasiun monitoring yang ada hanya lima (5), yang tentu menjadi tantangan sendiri. Dokumen ini mencoba mereview literatur model spasial maupun spasial temporal yang memiliki keterbatasan sampel. Jurnal akademik yang memiliki jumlah titik observasi yang memadai, kriteria >10, akan dikesampingkan.
Dari banyak literatur yang saya ketemukan, hanya ada beberapa yang membahas model spatiotemporal dengan observasi terbatas. Jurnal-jurnal tersebut dapat dilihat pada referensi di bawah ini. Pembaca dapat menjadikannya sebagai referensi. Namun sayangnya, sitasi jurnal luar negeri terhadap kedua jurnal ini sangat rendah. Untuk paper [2] saja hanya ada 4 paper yang men-sitasi, dikutip dari scholar.google.com. Hal ini menunjukkan bahwa jarang ada kasus terbatasnya monitoring station untuk kualitas udara untuk penelitian yang telah terpublikasi di jurnal internasional. Fakta ini akan menyulitkan peneliti di negara berkembang yang daerahnya, seperti di Surabaya, hanya memiliki stasiun pemantau 5 buah.
[1] Djuraidah, A. (2007). Model Aditif Spatio-Temporal untuk Pencemar Udara PM10 dan Ozon di Kota Surabaya dengan Pendekatan Model Linear Campuran. IPB (Bogor Agricultural University).
[2] Mendes, J. M., & Turkman, K. F. (2002). A simple spatio-temporal procedure for the prediction of air pollution levels. Journal of Chemometrics, 16(12), 623–632. doi:10.1002/cem.766